Antivenom Serum Penawar Bisa Ular | Penanganan Medis Gigitan Ular Berbisa
Pendahuluan
Gigitan ular berbisa merupakan ancaman kesehatan serius yang masih sering terjadi di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, area pertanian, perkebunan, dan pemukiman yang berdekatan dengan habitat ular. Racun atau bisa ular mengandung berbagai zat toksik yang dapat merusak sistem saraf, pembuluh darah, jaringan otot, dan organ vital, sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi berat hingga kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Satu-satunya pengobatan yang terbukti efektif untuk menetralisir bisa ular adalah antivenom (serum antibisa ular). Antivenom bekerja dengan cara mengikat dan menonaktifkan racun yang telah masuk ke dalam aliran darah, sehingga mencegah penyebaran toksin ke organ tubuh lainnya. Pemberian antivenom harus dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga medis terlatih, karena memerlukan penilaian klinis dan pemantauan ketat terhadap kemungkinan efek samping.
Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai fungsi antivenom, jenis bisa ular, serta langkah penanganan medis yang benar sering kali menyebabkan keterlambatan pertolongan, yang berakibat fatal. Oleh karena itu, edukasi yang akurat dan berbasis medis mengenai gigitan ular berbisa dan peran antivenom menjadi sangat penting untuk meningkatkan keselamatan pasien serta menurunkan angka kematian akibat gigitan ular di Indonesia.

Melalui artikel ini, pembaca mendapatkan informasi lengkap dan terpercaya mengenai bisa ular, jenis antivenom di Indonesia, cara kerja serum antibisa ular, serta prosedur penanganan medis yang tepat, sebagai panduan kesehatan yang dapat diandalkan.
Apa Itu Serum Antivenom untuk Ular Kobra?
Serum antibisa ular (antivenom) adalah obat yang dibuat untuk menetralisir racun ular setelah seseorang digigit. Cara kerjanya adalah dengan memberikan antibodi spesifik yang mengikat dan menonaktifkan bisa ular di darah korban.
Di Indonesia antivenom yang tersedia dikenal sebagai SABU (Serum Anti Bisa Ular), diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero). Serum ini diformulasikan untuk menangani bisa dari beberapa jenis ular berbisa, termasuk ular kobra Jawa (Naja sputatrix).
SABU bukan antivenom universal hanya berlaku untuk sejumlah spesies tertentu seperti kobra Jawa. Untuk beberapa ular berbisa lain (misalnya king cobra) harus mengimpor antivenom dari luar negeri atau menggunakan jenis lain yang tersedia secara terbatas.
Dimana Antivenom Bisa Ditemukan?
Antivenom tidak dijual bebas di apotek biasa hanya tersedia di fasilitas kesehatan tertentu, seperti :
✅ Rumah sakit rujukan (terutama provinsi/region besar)
✅ Beberapa Puskesmas dengan fasilitas lengkap
✅ Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit
Beberapa daerah bahkan sudah melaporkan SABU tersedia di puskesmas dan RS tertentu untuk penanganan gigitan ular. Namun stoknya masih terbatas secara nasional, terutama di area pedesaan atau fasilitas kecil.
Cara Mendapatkan Serum Jika Terkena Gigitan Ular Kobra
Langkah Penanganan Gigitan Ular Kobra
1. Tetap Tenang dan Kurangi Gerakan
- Jangan panik
- Imobilisasi area yang tergigit (tidak diikat ketat, tapi dibatasi pergerakannya)
2. Segera Pergi ke Fasilitas Kesehatan Terdekat
- Hubungi ambulans atau minta bantuan warga
- Utamakan puskesmas dengan UGD atau rumah sakit rujukan
3. Diagnosis oleh Tenaga Medis
Dokter akan menentukan apakah perlu antivenom berdasarkan :
- Gejala gigitan (lokal dan sistemik)
- Riwayat bisa ular
- Foto ular jika tersedia
Halo ahli medis akan melakukan identifikasi untuk memastikan terapi antivenom yang tepat.
4. Pemberian Antivenom (SABU)
- Diberikan oleh tenaga medis secara intravena (melalui pembuluh darah) di rumah sakit
- Dosis biasanya ditentukan oleh tingkat keparahan gigitan dan gejala
- Harus dilakukan di fasilitas dengan pengawasan medis karena perlu memantau reaksi dan efek samping.
5. Perawatan Lanjutan
- Observasi di rumah sakit untuk memastikan tidak terjadi komplikasi
- Terapi suportif seperti cairan infus, analgesik, dan perbaikan fungsi organ jika diperlukan
Fakta Penting yang Perlu Diketahui
1. Keterbatasan antivenom di Indonesia adalah masalah nyata hanya beberapa fasilitas medis yang punya stok, dan distribusinya belum merata.
2. Tidak semua jenis antivenom cocok untuk semua ular berbisa. Misalnya, antivenom untuk kobra Jawa tidak efektif untuk king cobra.
3. Penanganan pertama yang benar dan cepat sangat penting keterlambatan dapat meningkatkan risiko kematian atau cacat permanen.
Antivenom Apa yang Tersedia di Indonesia?
SABU — Serum Anti Bisa Ular (BioSave®)
Serum utama yang diproduksi di Indonesia adalah SABU (Serum Anti Bisa Ular), juga dikenal dengan nama dagang BioSave®, diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero).
Jenis venom yang ditangani SABU :
▪️Ular kobra Jawa (Naja sputatrix)
▪️Ular tanah / pit viper (Calloselasma rhodostoma)
▪️Ular welang (Bungarus fasciatus)
Serum ini bersifat polivalen (trivalen), artinya satu jenis antivenom digunakan untuk menangani bisa dari tiga spesies ular berbeda yang umum di Indonesia bagian barat (Jawa–Sumatra–Bali). SABU umumnya digunakan jika pasien digigit oleh salah satu dari tiga ular di atas dan menunjukkan gejala keracunan.
Antivenom Lainnya di Indonesia
Pengadaan Antivenom Baru (Kemenkes)
Kementerian Kesehatan RI dalam beberapa tahun terakhir telah mengupayakan pengadaan antivenom tambahan untuk tersedia di rumah sakit rujukan, termasuk :
1. Antivenom King Cobra (untuk racun Ophiophagus hannah)
2. Neuro Polyvalent Antivenom (Thailand)
3. Daboia Siamensis Antivenom
Ketiga jenis antivenom ini sedang diupayakan masuk ke fasilitas kesehatan tingkat provinsi. Namun saat ini belum semua jenis tersebut tersedia luas di semua rumah sakit, dan untuk beberapa jenis seperti antivenom king cobra masih sangat terbatas atau berasal dari impor.
Antivenom yang Belum Ada di Indonesia
1. King Cobra (Ophiophagus hannah)
2. Sampai sekarang Indonesia belum memproduksi antivenom khusus untuk king cobra.
3. Antivenom untuk king cobra yang lebih efektif hanya tersedia melalui impor, misalnya dari Thailand, dan harganya sangat mahal.
4. Jenis Ular Berbisa Lainnya
Serum SABU tidak efektif untuk banyak spesies berbisa lainnya di Indonesia,
termasuk :
1. Pit viper ijo / Trimeresurus spp.
2. Ular di Indonesia timur seperti yang ada di Papua
3. Karena racun dan antigen spesifiknya berbeda, dibutuhkan antivenom lain yang saat ini tidak diproduksi di Indonesia dan biasanya diimpor.
Ringkasan Jenis Antivenom di Indonesia
Antivenom Diproduksi di Indonesia?
Jenis Bisa yang Ditangani
▪️SABU (BioSave®)
✅ Ya Kobra Jawa, Ular tanah, Ular welang
▪️Antivenom King Cobra
❌ Belum tersedia domestik (impornya sangat terbatas)
▪️Neuro Polyvalent / Daboia Siamensis
❌ Sedang diupayakan masuk fasilitas kesehatan
▪️Antivenom lain (Green pit viper, dll.)
❌ Tidak tersedia » biasanya impor
Kenapa Ketersediaan Serum Masih Terbatas?
Indonesia memiliki puluhan spesies ular berbisa, tetapi produksi SABU hanya mencakup tiga jenis ular yang paling sering menyebabkan gigitan berat di wilayah barat negara ini.
Antivenom untuk spesies lain sering kali tidak diproduksi lokal karena :
1. Biaya riset dan produksi tinggi
2. Permintaan kasus yang relatif rendah
3. Kebutuhan teknologi dan distribusi dingin (cold chain)
Sehingga banyak antivenom harus diimpor dari luar negeri (misalnya Thailand) jika diperlukan.
Kesimpulan
✔ Serum antivenom yang tersedia di Indonesia saat ini SABU (BioSave®), antivenom polivalen untuk kobra Jawa, ular tanah, dan ular welang.
✔ Jenis antivenom lainnya (misalnya untuk king cobra atau pit viper ijo) belum diproduksi secara lokal dan hanya tersedia terbatas melalui impor atau pengadaan khusus.
✔ Hal ini membuat penanganan gigitan ular berbisa harus cepat dan tepat, serta sering melibatkan fasilitas kesehatan yang memiliki antivenom yang sesuai.