Biologi Milipade - Hama Pertanian

1. Ciri-Ciri Milipede (Diplopoda)
Milipede dikenal sebagai keluwing atau kaki seribu, berbeda dengan centipede (lipan) yang berbisa.
Ciri fisik utama :
-
Tubuh panjang berbentuk silindris.
-
Terdiri dari banyak ruas (segmen), masing-masing memiliki 2 pasang kaki.
-
Warna tubuh: coklat tua, hitam, kemerahan atau bergaris.
-
Bergerak lambat dan menggulung menjadi spiral saat terganggu.
-
Tidak berbisa dan tidak agresif.
-
Memakan bahan organik yang membusuk (saprofag).
Perbedaan dengan lipan (centipede)
-
Milipede tidak berbisa, sedangkan lipan berbisa.
-
Milipede memiliki ribuan kaki, lipan hanya 30–60 kaki.
-
Milipede makan bahan busuk, lipan predator.
2. Habitat Milipede
Milipede menyukai tempat yang lembab, gelap, dan kaya bahan organik.
Habitat umum:
-
Tanah humus
-
Serasah daun
-
Area berbatu atau di bawah kayu lapuk
-
Pinggir sawah
-
Kebun sayuran
-
Kompos atau tumpukan jerami
-
Area pekarangan rumah
Milipede aktif di malam hari (nokturnal) dan keluar setelah hujan.
3. Siklus Hidup Milipede
Siklus hidup milipede tergolong lambat, tetapi panjang umur.
Tahapan :
-
Telur
-
Diletakkan di tanah lembab.
-
Menetas dalam 1–2 bulan.
-
-
Nimfa
-
Tubuh kecil, kaki sedikit.
-
Setiap kali berganti kulit (moulting), jumlah kaki dan segmen bertambah.
-
-
Dewasa
-
Mencapai ukuran penuh dalam 1–2 tahun.
-
Umur bisa mencapai 5–10 tahun.
-
Sifat reproduksi :
-
Betina meletakkan puluhan hingga ratusan telur.
-
Populasi cepat meningkat pada musim hujan.
4. Dampak Milipede Terhadap Pertanian
Secara umum, milipede bukan hama utama, karena mereka memakan bahan busuk dan membantu menyuburkan tanah.
Namun, pada kondisi tertentu mereka bisa menjadi hama penting.
Dampak negatif pada pertanian:
-
Merusak benih dan tanaman muda
-
Milipede memakan bagian tanaman yang lunak seperti
✔ biji kacang panjang
✔ jagung
✔ mentimun
✔ cabai
✔ bawang
✔ padi baru kecambah -
Kerusakan terjadi pada daerah pangkal batang atau akar.
-
-
Merusak umbi
-
Menyerang umbi kentang, wortel, singkong, dan ubi jalar terutama yang luka atau busuk.
-
-
Populasi meledak pada tanah lembab dan mulsa tebal
-
Terlalu banyak bahan organik dekat permukaan tanah dapat menarik milipede.
-
-
Serangan meningkat saat musim hujan
-
Mereka mencari makanan di atas permukaan tanah dan masuk ke bedengan tanaman.
-
Dampak positif (yang sering dilupakan)
-
Membantu mempercepat dekomposisi bahan organik.
-
Meningkatkan struktur tanah.
-
Memperbaiki kesuburan dan aerasi tanah.
1. Pengendalian Secara Budaya (Cultural Control)
Metode ini sangat dianjurkan karena murah dan aman.
a. Kurangi kelembapan lahan
Milipede menyukai tempat lembap.
Cara mengurangi kelembapan :
-
Perbaiki drainase bedengan.
-
Buat saluran air lebih dalam.
-
Gunakan mulsa plastik hitam perak (lebih kering dari mulsa jerami alami).
b. Bersihkan sisa-sisa organik
-
Buang jerami busuk, gulma, dan sampah organik yang menumpuk.
-
Jangan biarkan tumpukan kompos terlalu dekat dengan area tanam.
c. Tanam serempak dan rotasi tanaman
-
Tanam serempak mengurangi tempat persembunyian.
-
Rotasi tanaman dengan jenis yang tidak disukai milipede seperti bawang atau sereh.
2. Pengendalian Secara Mekanis
Cara fisik untuk menurunkan populasi.
a. Perangkap kayu/batu
-
Letakkan potongan kayu basah, genteng, atau papan di area lembab.
-
Milipede akan berkumpul di bawahnya.
-
Angkat dan musnahkan secara manual.
b. Parit jebakan
-
Buat parit kecil di sekeliling bedengan.
-
Isi dengan air sabun ringan atau abu kayu.
-
Milipede akan terperangkap ketika turun.
c. Pengambilan langsung
Efektif ketika populasi rendah atau sedang.
3. Pengendalian Secara Alami (Biologis)
Mengandalkan musuh alami.
a. Ayam atau bebek
-
Pelepasan ayam kampung atau bebek di sekitar kebun (bukan di dalam bedengan tanaman muda).
-
Mereka memakan milipede tanpa merusak tanaman.
b. Semut predator
Koloni semut hitam sering menekan populasi milipede secara alami.
4. Pengendalian dengan Bahan Alami / Organik
Aman dan sering digunakan petani organik.
a. Serbuk kapur/dolomit
-
Taburkan di sekitar pangkal tanaman.
-
Mengurangi kelembapan dan membuat tanah tidak nyaman bagi milipede.
b. Abu dapur / abu kayu
-
Menaburkan abu di jalur yang sering dilalui milipede dapat mengurangi aktivitasnya.
c. Ekstrak tanaman pengusir
Beberapa tanaman menghasilkan bau yang tidak disukai milipede:
-
serai
-
nimba (mimba)
-
bawang putih
Bisa dibuat larutan dan disemprotkan ringan pada area serangan.
5. Pengendalian Kimia (Moluskisida / Insektisida)
HANYA sebagai opsi terakhir bila populasi sangat tinggi dan merusak tanaman muda secara signifikan.
Bahan aktif yang dapat digunakan
-
Karbofuran (granul) — digunakan di tanah, tetapi harus sangat hati-hati.
-
Metaldehyde (granul) — biasa dipakai untuk slug & snail, efektif untuk milipede.
-
Chlorpyrifos (tanah) — untuk pencampuran tanah pada serangan berat.
Catatan penting K3 & keselamatan
-
Pakai APD: sarung tangan, masker, sepatu boots.
-
Gunakan sesuai label, jangan melebihi dosis.
-
Jauhkan dari kolam ikan dan sumber air.
-
Jangan aplikasikan saat hujan.
6. Strategi Pengendalian Terpadu (IPM) yang Disarankan
Untuk hasil optimal :
Pada masa tanam awal (0–20 hari)
-
Bersihkan sisa organik.
-
Perbaiki drainase.
-
Pasang perangkap papan/kayu.
Pada masa pertumbuhan
-
Gunakan abu, dolomit, atau pengusir alami.
-
Rotasi tanaman dan jaga kebun tetap kering.
Jika serangan berat
-
Aplikasikan moluskisida granul hanya di titik sarang, bukan seluruh lahan.
Penutup
Pengendalian milipede membutuhkan pendekatan yang tepat agar populasinya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman, terutama pada fase awal. Melalui kombinasi metode budaya, mekanis, biologis, dan penggunaan bahan kimia sebagai pilihan terakhir, petani dapat menekan serangan milipede tanpa merusak keseimbangan ekosistem tanah. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lahan, memperbaiki drainase, serta melakukan pemantauan rutin menjadi kunci penting dalam keberhasilan pengelolaan hama ini. Semoga informasi ini dapat membantu petani meningkatkan produktivitas lahan secara lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.